Free Mining Cryptocurrency

Don't have adfly account yet? Join and get paid from adfly

Sunday, April 13, 2014

Masa Lalu Tidak Untuk Disesali

" Hidup adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa......Jadi jalani & nikmati saja"

Kalimat seperti itu sering terdengar dari nasehat orang tua Jaka sejak dia sekolah dibangku sd waktu itu. Namanya juga masih anak kecil, waktu itu Jaka kecil ya masih tidak mengerti maksud dibalik nasehat tersebut. 

Kehidupan Jaka kecil dan keluarganya pada saat itu termasuk pada golongan pas pasan. Maklum bapaknya Jaka adalah pegawai negeri sipil kelas rendahan di Pekerjaan Umum Daerah di salah satu Kabupaten di Jawa Timur. Sedangkan Ibunya Jaka hanyalah seorang ibu rumah tangga yang mengabdikan diri untuk mengurus anak-anak dan suaminya. 

Jaka adalah anak ke-4 dari 5 bersaudara. Walaupun tergolong pas pasan, Kedua orang tua Jaka termasuk ulet dalam mencari nafkah bagi kelangsungan hidup anak-anaknya sampai mandiri. Selain sebagai pegawai negeri sipil, bapaknya Jaka bekerja keras sebagai tukang sumur bor manual dan instalasi air bagi rumah tangga. Hal itu tetap dijalani oleh bapaknya Jaka sampai masa pensiunnya tiba.
Pun demikian, Ibunya Jaka juga berusaha keras untuk selalu mengelola setiap jerih payah sang suami agar kebutuhan hidup bagi keluarga besar Jaka tercukupi......walaupun sering tidak cukup...

Pada jaman dimana TV adalah suatu barang mewah pada saat itu dimana satu-satunya stasiun TV hanyalah TVRI, Jaka kecil sering nebeng untuk menonton di tetangganya. Seringkali Jaka kecil harus puas menonton TV dari sela-sela pintu yang memang sengaja di tutup oleh pemilik rumah. Sering kali, Jaka kecil diusir oleh tetangganya tersebut saat ketahuan mengintip untuk melihat film kesukaannya.
Dengan sedih Jaka pulang kerumah sambil memeluk ibunya, merengek dan berkata..... 
" bu, kapan ya kita bisa punya TV seperti tetangga kita itu.."
Ibunya Jaka menjawab: ..." bapak sama ibu masih berusaha cari uang nak....nanti kalau uangnya sudah cukup, kita bisa beli sendiri...."

Jaka: ..." bener ya bu....tapi kapan?...."

Ibu:..." nanti nak...kalau Tuhan mengijinkan, kita pasti bisa punya sendiri...."

Jaka: ..."cepetan beli ya bu....Jaka malu sama teman-teman yang sudah pada punya tv baru,...lagian Jaka sering diusir kalau numpang nonton tv di tetangga......padahal Jaka lho nontonnya cuma ngintip lewat celah-celah pintu..."

Dengan kesedihan yg disimpan dalam hati, Ibu menjawab:
..." nak, hidup ini adalah anugerah dari Tuhan Yang Maha Kuasa....kenapa kamu mesti malu kalau kita masih belum punya tv....kenapa juga kamu sedih kalau tidak diijinkan oleh tetangga kita untuk nonton ditempat meraka.....

Ibunya Jaka meneruskan kalimatnya: ...." Memang kita masih belum diijinkan oleh Tuhan untuk memiliki itu nak....Kita nikmati aja yang sudah Tuhan berikan kepada kita, yang penting saat ini kita sehat semua....masih bisa merasakan nikmatnya makanan yang ada dirumah....dan yang paling penting kita tidak boleh berhenti untuk mencari rejeki yang halal nak..."
"Coba kamu lihat....apakah semua temanmu juga punya itu semua?"
"dan coba lihat nasib teman-temanmu yang kurang beruntung dari kita....ada kan?..."

Jaka menjawab (walaupun dia masih belum puas dengan ucapan ibunya itu...):
..." iya bu, temanku ada yang lebih susah dari kita...."

Ibu:.." nah, nak ....dalam hidup jangan selalu melihat ke atas....tapi lihat juga kebawah sehingga kamu akan mengerti arti bersyukur...."

Jaka kecil terdiam walaupun sebenarnya dia masih tidak mengerti kalimat yang diucapkan oleh ibunya tersebut.

Waktu terus berlalu sehingga jaka kecil beranjak dewasa. Jaka dan semua saudaranya tergolong orang-orang yg beruntung dalam sekolahnya. Walaupun tidak terlalu pintar, Jaka dan semua saudaranya diterima disekolah favorit mulai dari smp, sampai sma walaupun dinding rumah masih terbuat dari anyaman bambu. Jaka dan saudara-saudarnya menjadi lebih tekun dan rajin dalam belajarnya. Seiring dengan waktu pula, Jaka mulai mengerti arti dari nasehat ibunya waktu dia kecil itu.

" Hidup adalah anugerah dari Yang Maha Kuasa......Jadi jalani & nikmati saja"

Dan yang paling penting, Jaka menjadi mengerti hikmah dari perjalan hidupnya.